Islam; Belajar Tradisi Penelitian Dari Barat
by: ibnu | Total views: 650 | Word Count: 531 | View PDF | Print View
Padahal, dulu peradaban Timur, khususnya Islam jauh lebih kaya dan lengkap dalam khzanah peradabanya. Mulai dari masa Rasul SAW, Khalifah Ar-Rasidun, Bani Umayyah dan Abasiyyah sampai Turki Usmani. Pelbagai tokoh sekaligus penemu ilmu pengetahuan pun bermunculan. Sebut saja, al-Jabar, Ibn Sinna, Ibn Rusyd, Al-Ghazalie, Al-Kindi dll.
Kini, semuanya tinggal kenangan dan terkubur dalam ingatan umat Islam. Lantas apa penyebab utama kemunduran peradaban tersebut.
Menilik persolan itu, kita bisa melacak akar keterbelakagan budaya timur dalam buku Budaya Barat dalam Kacamata Timur; Pengalaman dan Hasil Penelitian Antropologis di Sebuah Kota di Jerman, (2006)
ini menyebutkan, semua lebih disebabkan karena faktor lemahnya tradisi
penelitian atau akademik dari orang-orang Timur sendiri. Termasuk juga
lemahnya pendanaan, baik dari universitas maupun lembaga donatur,
terhadap seorang peneliti.
Harus diakui atau tidak peradaban
barat bukan karena lebih superior kedigjayaannya daripada Timur atau
Barat lebih dulu mengenal tradisi akademik jika dibandingkan dengan
Timur.
Meskipun kata Zamaahsari A Ramza, mahasiswa Fisipol
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menjelaskan bila ada
penelitian di negara Barat yang dilakukan ilmuwan (Antropolog) Timur
merupakan salah satu terobosan baru dalam dunia akademik. Inilah yang
telah dicoba dilaksanakan oleh beberapa mahasiswa Jurusan Antropologi
Fakultas Budaya UGM bekerja sama dengan Jurusan Antropologi Fakultas
Filsafat Universitas Freiburg, di Jerman. Fokus penelitian adalah Kota
Freiburg, sebuah kota yang terletak di Jerman Selatan.(Media Indonesia, 25/07)
Di sana yang diteliti berkenaan dengan identitas, budaya, fashion,
kawin campur, sepeda sebagai gaya hidup masyarakat Freiburg, makna bir
bagi mahasiswa Freiburg (Jerman), pasar tradisional sebagai identitas
lokal dan lain-lain. Pendek kata, semua hasil penelitian itu terangkum
dalam buku penting berjudul Budaya Barat dalam Kaca Mata Timur ini.
Dengan
demikian meneliti menjadi keharusan bagi suatu kemajuan bangsa.
Terlebih lagi, tradisi menulis merupakan tanda suatu masyarakat beradab.
Selain itu, dengan menyemarakkan budaya tulisan daripada lisan. Paling tidak kita termasuk dalam kategori:
Pertama, dengan melakukan penelitian pada budaya lain (asing), selain bisa memperoleh pengetahuan tentang the other, juga dapat meningkatkan sensitivitas budaya, yang kemudian memiliki implikasi dalam cara memahami kebudayaan sendiri.
Kedua,
dapat memberikan suatu pola hubungan baru yang sinergis dan egaliter
antara peneliti Barat dan peneliti Timur karena kemitraan (partnership)
di antara keduanya terjalin dengan baik.
Dengan sendirinya akan melahirkan mutual respect dari setiap keragaman budaya yang diteliti.
Ketiga,
memperkuat penelitian tentang dinamika budaya di Barat dan di Timur
akan menghindari benturan (clash) di antara kedua peradaban.
Sudah
tentu, bila kita tetap mempertahankan sekaligus menjadikan tradiri
menulis sebagai modal utama umat islam, niscaya pelbagai anggapan Barat
lebih superior dan Timur inferior dengan sendirinya akan menghilang.
Pasalnya, dengan tetap melanggengkan stereotip-stereotip seperti itu,
hanya akan menciptakan kebencian berlebih-lebihan antar kedua budaya
tersebut.
Upaya memerangi peradaban barat dengan
mengangkat pena jauh lebih berarti dan tak ternilai harganya ketimbnga
hanya mampu berteriak atau aksi unjuk rasa dalam menyikapi pelbagai
kemiskinan, keterbelakangan pendidikan dan ketertinggalan ilmu
pengetahuan.
Akhir kata, jangan mudah mengeluh dan menyerah
dalam membiasakan coretan. Apalagi merasa takut tulisanya tak dibaca
dan dipublikasikan orang atau penerbit. Semua rasa kecemasan itu buang
jauh-jauh, kalau perlu coret kata tidak bisa dalam kamus kehidupan
kita. Namun, tumbuh kembangkan budaya tulis, tulis, dan tulis, begitu
Pram berpesan kepada kita sebelum ajal menjemputnya. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, 31/07;23.58 wib
*
Ibn Ghifarie, Mahasiswa Studi Agama-Agama Fakultas Filsafat dan Teologi
Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung dan
aktivis LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu keIslaman) Bandung.
About the Author
Rating: 5.00
Comments
bagus bgt artikelnya, nambah semangat menulis nih... karena itulah situs ini hadir dan semoga dapat menggeliatkan budaya menulis bagi masyarakat Indonesia.
Jadi bukan dengan unjuk rasa, demo besar2an untuk merubah peradaban. Salah satunya yakni dengan menggeliatkan budaya menulis.
Ada sebuah pesan yang mungkin bisa pula menggeliatkan semangat kita:
Gagal atau tidak, itu biasa. Tapi berhasil, itu pilihan!
Jadi, berhasil membangun peradaban dengan menulis, pilihannya hanya dua: MAU ATAU TIDAK MENULIS!
--
My Blog
Mudah-mudahan apa yang kita tanam hari ini, kelak dapat bermanfaat bagi generasi berikutnya. Amien.
--
Maka Ambillah Pena..!!http://boelldzh.blogspot.com
bagus tulisannya, baik secar tehnik, tapi jelas terlihat kebijaksanaa berpikirnya

