Navigation


RSS: articles



Kala Beda Pemahaman Jadi Malapetaka


by: ibnu | Total views: 221 | Word Count: 961 | View PDF | Print View


Terlebih lagi,
hanya karena beda pemahaman dalam menafsirkan sumber umat islam
(Al-Quran dan Al-hadis). Rasanya tak pantas bila kita menyelesaikan
persoalan beda pendapat dengan budaya preman. Mengerikan sekali.

Kedengaranya
perbuatal llaim itu tak mugkin terjadi, tapi kuatnya arus modenitas dan
lemahnya keimana acapkali perlakuan tak terpuji itu menjadi bagian yang
tak bisa dipisahkan dalam menuntaskan persoalan yang dihadapi.

Di
tengah-tengah keterpurukan umat islam dan krirsis kepemimpinan. Masih
banyak kelompok tertentu melakukan perbuatak senonoh dalam
menyelesaikan persoalan dengan jalan pintas.
Adalah budaya baku hantam menjadi jurus pamungkas guna menumpas semua golongan yang berbeda.

Islam Sejati Menuai Badai
Salah satunya aliran Islam Sejati, di Desa Nyompok, Kecamatan Kopo, Serang Banten.

Konon,
kemunculan pemahaman ini dianggap meresahkan masyarakat, hingga
menafikan Tuhan. Pasalnya, mereka mengajarkan pemahaman diantaranya; Pertama,
Sholat menghadap 4 arah mata angin, yakni utara, barat, timur dan
selatan. Salah satu alasanya karena perbuatan ini dikenal sebagai
Sholat Mencari Rezeki. Kedua, Sholatnya dilakukan 3 waktu (3 kali) dalam sehari. Ketiga, Keyakinan bahwa bulan 6 (Juni) 2007 akan terjadi kiamat. Tidak diketahui secara pasti tanggal terjadinya.

Hery
dan Ahyari merupakan kedua tokoh Islam Sejati. Namun, saat dimintai
keterangan mereka sedang tak ada ditempat. Kecuali Ammah, istri Ahyari.
Ammah mengaku hanya sempat dua kali mengikuti ajaran suaminya. "Menurut
Ahyari, ritual itu hanya sebuah doa. Tapi, kata Hery, itu adalah cara
sembahyang," ujar Ammah.

Lantaran caranya tidak masuk di akal,
Ammah segera keluar dari ajaran tersebut. Meski untuk itu, dia terpaksa
harus bertengkar dengan suaminya. "Hery juga marah-marah karena saya
tidak mau diajak ke jalan yang benar," kata Ammah.

Senada dengan
Amanah. Titin, isteri Heri menuturkan, mereka juga meminta ditunjukan
cara salatnya. Lebih mengejutkan lagi, Titin juga mempraktikan cara
mandi dengan menggunakan air kelapa. Menurut dia, ini adalah cara
suaminya dan Ahyari membaiat para pengikutnya. (Tim Derap hukum SCTV)

Kala Beda Pemahaman Jadi Malapetaka.

Kendati
tak diperlakukan semena-mena. Pengikut aliran ini mendapatkan bimbingan
lebih dari pemuka agama setempat. Termasuk MUI menjadi juru selamat
atas perbuatan ganjil ini. Hingga memberikan pengajaran dua halimah
syahadat lagi kepada mereka supaya bersyahadat lagi. Karena mereka
telang dianggap menyimpang dan keluar dari islam.

Padahal
Rasulullah sangat mengecam perbuatan itu, dengan mengeluarkan sabdanya”
mencaci maki orang muslim itu kufur, sedangkan membunuhnya juga kafir” (H R Bukhari-Muslim).

Kalau
begitu, apalah artinya petuah Rasulullah mengenai perbedaan sebagai
Rahmat. Jelas hal ini belum membuahkan hasil yang memuaskan hati kita.
Sebab kita masih berkeyakinan bahwa dengan keseragaman (monolitik) kita
bisa mengentaskan segala permasalahan yang kita hadapi dengan dalih
mudah dikendalikan dan teratur.

Berkenaan dengan pemahaman
sholat tiga waktu (Subuh, Dzuhur dan Magrib). Bila kita mencermati
al-Quran, maka kia akan menemukan landasan ketiga waktu shalat itu.
Yakni gurubis syamsi (saat pertengahan matahari; dikenal dengan waktu Dzuhur), ghosakol lain (saat ufuk merah menyongsong; disebut magrib) dan turuil fajri (saat fajar datang; akrab dengan sebutan subuh).

Memang
bila kita hanya mengikuti al-Qur’ana semata. Maka perintah sholah pula
hanya cukup tiga waktu saja. Sama halnya dengan kelompok Syiah,
pengikut keluarga Ahul Bait. Mereka tak menganal lima waktu sholat,
tapi tiga.

Benarkah Fatwa MUI Bisa Menjadi Obat Mujarab Atas Keresahan Masyarakat?
Namun,
ceritanya akan lain bila penguasa hanya mengamini satu madzhad
tertentu. Tentunya, diluar kelomponya harus diberanguskan dari muka
bumi ini.

Begitupun dengan kehadiran Majelis Ulama Indonesia
(MUI) Provinsi Banten yang menyatakan bahwa paham atau ajaran tersebut
sesat. "MUI Banten mengeluarkan fatwa bahwa Islam Sejati adalah aliran
sesat," kata Ketua Bidang Fatwa MUI Banten KH Mas'ud di Serang, Selasa
(15/5) kemarin.

Ajaran ’Islam Sejati’ sebelum ini berkembang di
Kampung Curaheum, Desa Pasindangan, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak.
Aliran ini mengajarkan cara ibadah dan ajarannya tidak sesuai dengan
Al-Quran dan Hadis. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Banten
menyatakan bahwa paham atau ajaran tersebut sesat.

Dalam
kegiatan peribadatannya mereka melakukan shalat tiga waktu yakni
Dzuhur, Magrib dan Shubuh tanpa menghadap kiblat dan tanpa harus
berwudlu. Selain itu, mereka juga dalam mengerjakan shalat hanya
dilakukan dengan sujud kesebelah timur dan terus berputar sampai
sebelah utara dan bacaan dalam shalatnyapun berbeda dari biasanya.
Ajaran lainnya mereka juga melarang melakukan shalat Jumat dan
mengeluarkan zakat 25 persen serta berpuasa sahur dilakukan pada jam
24.00.

"Dari tujuh orang penganut Islam Sejati yang sudah
dimintai keterangannya, mereka mengatakan hal yang serupa dan tidak ada
motif untuk mengikuti ajaran tersebut kecuali tergiur oleh penjelasan
yang diberikan gurunya," kata KH Mas'ud.

Dengan demikian,
meskipun belum dibuat secara tertulis, MUI Banten menyatakan bahwa
aliran Islam Sejati tersebut adalah ajaran sesat dan sudah meminta
kepada para pengikut ajaran tersebut kembali kepada ajaran Islam yang
benar sesuai dengan Al Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW.

Selain
itu, MUI Provinsi sudah meminta kepada MUI di tingkat kecamatan
se-Kabupaten Labak, khususnya di Kecamatan Cileles agar terus mengawasi
dan memantau perkembangan faham atau ajaran yang menyesatkan warga
tersebut.

MUI juga meminta kepada semua penganut ajaran ’Islam
Sejati’ tersebut untuk kembali kejalan yang lurus, dan meninggalkan
semua ajaran tersebut karena dinilai sudah keluar dari ajaran Islam
yang sebenarnya. (www.hidayatullah.com)

Sejatinya
kehadiran pewaris nabi harus menjadi perekat sekaligus memperkuat
temali silaturahmi antar golongan dalam umat islam, bukan memperburuk
kondisi masyarakat.

Tak lain guna menghargai satu sama lain
dalam bertukar fikiran. Dengan munculnya Fatwa MUI itu tak ada jaminan
akan memperbaiki ukhuwah diantara kedua aliran tersebut. Malahan akan
menyulitkan persoalan akut itu. Hingga terjadilah budaya saling
bunuh-membunuh.
Dengan demikian, mari kita sama-sama belajar menghargai perbedaan pendapat, baik dalam kelompok maupun diluar golonganya.

Jika
perbuatan beradab itu tak menjadi bagian keseharian kita maka tunggulah
perpecahan di umat muhammad ini. Thus, kaum iman minoritas pun menjadi
satu kelompok yang terpingirkan lagi.

Satu bukti tersingkirnya
mereka dari penguasa mayoritas adalah saat penamaan aliran Islam sejati
saja, mereka baru mengetahuinya dari media dan pengikut setia Hery dan
Ahyari ini tak pernah mengatsnamakan dirinya sebagai islam sejati.
‘Saya juga tidak tahu yang namanya Islam sejati. Ketemunya juga di
koran,’ kata Ammah. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 20/06;23.14 wib

* Ibn Ghifarie, Mahasiswa Studi Agama-Agama Fakultas Filsafat dan Teologi Universitas
Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung dan aktivis LPIK
(Lembaga Pengkajian Ilmu ke-Islaman) Bandung.

 

About the Author


Rating: Not yet rated

Comments

No comments posted.

Add Comment


Enter the code shown

Visual CAPTCHA



Enter your Email


Preview | Powered by FeedBlitz

Main Menu



Categories


Sponsors



Ebooks from eLibrary!
Ebooks!
  • 1 users online.
eXTReMe Tracker

GrowUrl.com - growing your website
100ribu utk 3jt/bln. | News Review 100ribu utk 3jt/bln. | Kerajinan Murah | Souvenir Murah Technorati




60ribu utk 3juta/bln

Jual Rumah Jual tanah di Jogja | Arhan's Adventure | Jasa Pembuatan Web Desain Murah | SugihDuit.com | BSC Rental Komputer | Komunitas Photoshop Indonesia | Healthy Article | Gitertan | INFO | Education Center | Recipes Foods
Kala Beda Pemahaman Jadi Malapetaka - Article Directory & Press Release