Inilah Kekerasan Terhadap Laki-Laki
by: ibnu | Total views: 674 | Word Count: 370 | View PDF | Print View
Bila dahulu perlakuan bejad itu
kebanyakan dilakukan oleh kaum adam. Kini, malah sebaliknya.
Seolah-olah ingin sejajar dengan laki-laki. Awal terbongkarnya kasus
ini setelah FM (25), yang saat itu masih mahasiswi perguruan tinggi
swasta ternama di Bandung, datang ke rumah orang tua korban dan meminta
maaf karena telah mengajak JS (saat itu berusia 13 tahun) bercinta dan
melakukan hubungan badan dengannya, hingga FM hamil.
Kakak
dari wanita itu meminta pengertian keluarga korban dengan mengatakan
walau sebejat apa pun adiknya dan selacur apa pun, harap diterima
karena sudah hamil dan minta tanggung jawab. “Saya sangat shock
(terpukul) belum sempat saya tanya alasan yang satu, sudah ditimpa oleh
soal lain secara bertubi-tubi,” kata ibu korban, Ny. DT, S.H., (Pikiran
Rakyat, 02/04).
Menyoal perbuatan tak baik itu, Reni Sendiawati.
aktivis WSC (Women Studi Center) Bandung angkat bicara `Wah boleh juga
ini, tapi ko bisa terjadi ya. Bukankah laki-laki yang sering mengawali
perlakuan bejag itu, hingga melakukan pemaksaan terhadap korban,`
ungkapnya.
`Inilah salah satu bentuk kekerasan terhadap laki-laki,` tambahnya.
Lain
halnya dengan Jamhur, mahasiswa SPI (Sejarah Peradaban Islam)
memaparkan `Wah ini mesti berlaku hukum qisos (balas-membalas-red).
Sebab dia (perempuan-red) telah melecehkan kaum adam,`
`Nya teu nanaon bagi urang mah. Malahan atoh bisa kawin jeung mahasiswi. Ngeunah pan,` ungkap salah satu mahasiswa yang tak mau disebutkan namanya.
Menyinggunga
adanya motiv pencemaran nama baik orang tua korban guna menggeser
kedudukanya di intansi tertentu. Mengingat sang korban termasuk
keluarga terpandang. `Bagi saya, lagi-lagi inilah bentuk nyata
kekerasan terhadap kaum adam. Lepas dari persoalan politik sekalipun,`
tegas Reni
`Yang jelas, kekerasan, pelecehan sexsula bias
menimpa kepada siapa saja dan tak mengenal gender (jenis kelamin-red),
` jelasnya.
`Saya berharap persoalan ini mesti cepat
diselesaikan dengan pihak berwajib. Bagi kami, mari kita sosialisasikan
pendidikan seksual dan pentingnya pendidikan politik bagi siapa saja.
Termasuk anak-anak dan perempuan supaya tak terjadi lagi hal-hal yang
tidak diinginkan, katanya.
`Ah itukan lagu lama dalam menggeser
lawan politik. Yang jelas, peranan keluarga khususnya ibu sangat
penting dalam membangun keutuhan keluarga. Termasuk cara mendidik anak
bagaimana bersikap, bertindak dan melakukan perbuatan apapun,` demikian
ungkap salah satu aktivis pergerakan mahasiswa. [Ibn Ghifarie]
Car Rampes, Pojok Sekre Kere, 03/04;15.49 wib
*Ibn Ghifarie, Mahasiswa Studi Agama-Agama Fakultas
Filsafat dan Teologi Universitas Islam (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung
dan Aktivis Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) Bandung
About the Author
Rating: 0.00

