Mengurai `Wajah Muram` Pahlawan Devisa!
by: ibnu | Total views: 292 | Word Count: 1553 | View PDF | Print View
Kini,
hampir setiap hari pahlawan devisa acapkali mendapatkan perbuatan
ganjil dari sang majikan, mulai dari pemerkosaan, kekerasan fisik dan
psikis, tak dibayar gajihnya, sampai tradisi menghilangkan nyawa orang
lain.
Kehadiran KBRI (Kedutaan Besar
Republik Indonesia) dipelbagai negara tak bisa berbuat banyak. Malahan
slogan pemerintah supaya menygayomi sekaligus melindungi hak-hak sipil
warga negaranya dari tekanan orang atau bangsa lain. Ini malah
sebaliknya. Ironis memang.
Beberapa staf KBRI dikabarkan ikut
membidani aksi perdagangan perempuan itu. Aneh memang. Tapi inilah
wajah bumi pertiwi. Terbongkarnya aksi bejad ini terjadi di Kuwait
diduga staf KBRI terlibat kasus perdagangan manusia. Tudingan ini
muncul berdasarkan pengakuan tiga mantan tenaga kerja wanita (TKW) di
negara itu.
"Mereka baru berani mengaku setelah sebulan di
berada di Tanah Air," kata Nurmawati, koordinator Lembaga Pendamping
Tenaga Kerja Indonesia, di Jakarta, Selasa.
Satu korban asal
Cianjur kembali ke kampung halaman sambil membawa anak hasil
pemerkosaan lelaki Kuwait yang membelinya dari agen asal Indonesia. Dua
korban lain bekerja sebagai sukarelawan di Lembaga Pendamping Tenaga
Kerja Indonesia. "Sekarang saya ikut mendampingi TKW bermasalah," kata
Evi Zulfitriana, salah satu korban. (Tempo, 15 Juni 2005)
Adalah
budaya kambing hitam, tuding-menuding dan dipeti eskan dalam setiap
menyelesaikan segala persoalan kekerasan terhadap kaum hawa yang sedang
dihadapinya. Terlebih lagi saat sang majikan mempunyai duit lebih.
Walhasil, mereka harus rela mondok di hotel predeo. Tentunya, bukan di
negara Indonesia, tapi di bangsa tuanya.
Sekedar Catatan Kelam TKW
Sriati
Anggraeni, 22, TKW asal Desa Gebang, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten
Blitar, Jawa Timur menjadi korban penyiksaan kekejaman majikannya di
Taiwan. Setelah bekerja selama setahun lebih di Taipei, Taiwan sebagai
pembantu rumah tangga di rumah keluarga Sie Chong Long, Sriati pulang
ke rumahnya dalam keadaan mengenaskan akibat siksaan. Tubuhnya penuh
luka bekas setrika. Payudara sebelah kirinya membusuk. Yang lebih
mengerikan, sejumlah gigi dan kukunya rontok karena dicabut paksa. (Tempo, 27 Mei 2005)
Sunaena,
31 tahun, seorang tenaga kerja wanita Indonesia di negara bagian Johor,
Malaysia, menjadi korban ekspolitasi dan penipuan. Pasalnya, gadis
berbadan tinggi besar itu, mengaku telah bekerja dengan majikannya Mr.
Ng Cheng Hua, selama empat belas tahun tujuh bulan, namun selama itu,
tak pernah digaji.
"Empat belas tahun saya bekerja siang dan
malam,” kata Sunaena kepada Tempo di Konsulat Jenderal Republik
Indonesia Johor, Jumat (31/3). Selain sebagai pembantu rumah tangga,
dia juga mengaku dipekerjakan di mini market milik majikannya.
“Selama
itu, saya hanya pernah dapat tips sebanyak RM 150 (sekitar 320 ribu
rupiah) sebagai imbalan bulan pertama bekerja," ujar Sunaena saat
ditemui Tempo, Jum'at (31/3) di Konsulat Jenderal Republik Indonesia
(KJRI) Johor.
Anak sulung dari tiga bersaudara hasil perkawinan
Dartam dan Rubiah, warga Cilacap, Jawa Tengah, kini berada di bawah
perlindungan KJRI Johor Bahru untuk menunggu kasusnya diproses secara
hukum.
“Ini kejadian luar biasa. Betul-betul ekspolitasi biadab.
Pihak kami telah melaporkannya ke Departemen Perburuhan Negeri Johor
untuk ditindaklanjuti," kata Kepala Bidang Kanselerei, HOC-KJRI, Budi
Prakoso.
Kepala Bidang Konsuler Urusan Tenaga Kerja Wanita, P
Wita Kamil, mengatakan kasus tersebut telah dilimpahkan ke Kepolisian
Daerah Johor Bahru. "Kasus ini akan kami usut, karena selain masalah
eksploitasi tenaga Sunaena, juga terkait kasus penipuan identitas
Sunaena,” kata Wita.
“Dalam masalah ini kami banyak saksi yang
bersedia membantu di mahkamah," Wita menambahkan. Wita menambahkan,
berdasarkan pengakuan Sunaena, bahwa dirinya bernama Darmini. "Nama
Sunaena tiba-tiba muncul di paspor yang diterbitkan di KJRI Johor
beberapa tahun yang lalu menggantikan nama Darmini. (Tempo, 31 Maret 2006)
Lima
tenaga kerja wanita (TKW), tiga di antaranya asal Kabupaten Cianjur,
yang baru pulang dari Arab Saudi, dirampok dan disiksa saat keluar dari
Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, kemarin.
Satu korban bernama
Sarah binti Teteng, 32 tahun, warga Kampung Girijaya, Desa Girijaya,
Kecamatan Tanggeung, Kabupaten Cianjur, harus dirawat di rumah sakit
lantaran kondisinya kritis.
Selain mengalami luka-luka akibat
siksaan, para TKW itu kehilangan seluruh harta bendanya. Setelah
dirampok dan disiksa, mereka dibuang di tempat yang berbeda-beda. Empat
di antaranya hingga saat ini belum diketahui nasibnya. Keempat orang
tersebut adalah Ai dan Yayah, warga Cianjur, serta Suci dan Indri,
warga asal Lombok.
Sarah ditemukan di perkebunan teh PTPN VIII
Panyairan, Kecamatan Campaka, Cianjur, oleh seorang tukang ojek.
Setelah sempat dibawa ke rumahnya dalam kondisi tak sadarkan diri,
Sarah langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Cianjur oleh relawan RSU
Cianjur dan Mawar Community Pers, kemarin malam.
Saat ditemukan
di kawasan perkebunan teh, kondisi Sarah sangat mengenaskan. Di dalam
saku celananya hanya ditemukan uang Rp 16 ribu, sebungkus obat, dan
faktur kedatangan di bandara yang tidak ditandatangani. Hadan, 30
tahun, tukang ojek yang menemukan dan mengantar Sarah menjelaskan, saat
ditemukan, seluruh tubuh Sarah mengalami luka lebam dan lecet. (Tempo, 26 Mei 2006)
Malang
nian nasib Unirwah. Bukan uang real yang didapat dari hasil bekerja di
Arab Saudi, melainkan penyiksaan oleh majikannya. Bahkan, akibat
penyiksaan itu, ia kini mengalami kelumpuhan. Wanita asal Jatiwangi,
Majalengka, Jawa Barat, itu baru dua bulan bekerja di rumah keluarga
Rahman al Mahmud di Arab Saudi.
Sejak hari pertama ia bekerja,
Unirah sudah mendapat siksaan dari majikannya. Tangan kiri Unirah
melepuhakaibat disetrika. Kakinya menderita luka bakar karena disiram
air panas. Luka tersebut mengakibatkan cacat pada bagian tangan dan
kakinya.
Wanita berusia 33 tahun itu bisa pulang ke Indonesia
setelah nekat melarikan diri dari rumah majikannya. Ia lalu mendapat
pertolongan dari polisi setempat yang membelikannya tiket pesawat
seharga 600 real. Sedangkan pihak Kedutaan Besar RI di Arab Saudi
memberikan bantuan administratif. (Metro TV, 11 Agustus 2006)
Kasus
penganiayaan oleh majikan terhadap tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia
di Malaysia kembali terungkap. Kali ini korban bernama Sanih binti
Saleh, TKW asal Indramayu, Jawa Barat. Sanih sekarang dirawat di rumah
sakit. Ia mulai bekerja di Malaysia bulan Mei tahun lalu. Sanih
mengaku, selama bekerja ia kerap dianiaya, seperti disiram air panas,
dipukul dengan rotan panjang, besi dan juga disetrika.
Menurut
Sanih, majikannya menyiksa sambil menuduh Sanih telah mencuri uang,
makanan dan minuman di rumah tempat ia bekerja. Karena sudah tidak
tahan, Sanih kemudian melarikan diri ke Kantor Kedutaan RI di Kuala
Lumpur, Malaysia, dengan ditemani seorang warga negara Indonesia. Duta
Besar RI di Kuala Lumpur Rusdiharjo mengunjungi Sanih guna memberi
dorongan moral. Menurut tim dokter, Sanih dapat sembuh setelah beberapa
bulan perawatan. (Metro TV, 02 Oktober 2006)
Kini,
giliran Ceriyati binti Dapin, tenaga kerja wanita asal Brebes, Jawa
Tengah, melarikan diri dari apartemen majikannya di Sentul, Kuala
Lumpur, mencuat sebagai cerita utama di berbagai media di Indonesia dan
Malaysia. TKW ini kabur lantaran tidak tahan disiksa majikannya. (Bisnis.com, 19 Juni 2007)
Buah Simalakama Itu Bernama Devisa
Maraknya
perbuatan itu, sebenarnya bukan cerita baru tapi lama. Kejadiannya
kerap kali berulang, namun pemerintah tetap belum menemukan formula
ampuh untuk mencegah berulangnya penganiayaan terhadap para pahlawan
devisa kita.
Jelas tidak fair jika kita menuding pemerintah
belum berbuat apa-apa untuk mengurangi kejadian-kejadian yang
merendahkan martabat kita sebagai bangsa dan menghinakan makna
kemanusiaan ini. Namun, di lain sisi, bukan berarti apa yang telah
diperbuat para pengambil kebijakan sudah merupakan langkah maksimal.
Tentunya,
langkah intensif terus-menerus mesti dilakukan pihak penguasa baik
secara bilateral dengan pejabat setiap negara yang memanfaatkan TKW
kita. Sangat penting menunjukkan kepada negara-negara pengguna jasa TKW
asal Indonesia, pemimpin kita sangat memerhatikan warganya yang
berjuang di negeri seberang dan bertindak sebagai pelindung yang
tangguh bagi mereka. Bukan sebaliknya.
Sejatinya penentu
keputusan bukan hanya dilakukan oleh Departemen Tenaga Kerja dan
Transmigrasi melalui Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga
Kerja Indonesia (BNP2TKI), melainkan juga oleh menterinya, bahkan oleh
Presiden di level tertinggi.
Sikap yang diperlihatkan Pemerintah
Malaysia dengan segera mengutus pejabat dari Depnaker-nya serta rencana
membahas persoalan Ceriyati pada sidang kabinet negeri jiran itu memang
mencerminkan kepedulian. Tetapi belum tentu hal serupa juga akan
dilakukan pemerintah negara lain di mana TKW kita mengalami perlakuan
serupa.
Menaikkan tingkat kesejahteraan TKW kita yang berjuang
di pelbagai negara melalui peningkatan standar upah di sejumlah negara;
Arab Saudi, Taiwan, Hong Kong, Malayasia, dan Singapura merupakan satu
upaya positif demi melindungi TKI, khususnya TKW, jelas mutlak
ditingkatkan dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Sudah tentu,
perlindungan serupa itu, bukan hanya diperlukan saat mereka berada di
luar negeri, melainkan juga ketika mereka tiba di Tanah Air. Masih
sering terdengar pemerasan yang dialami para TKW waktu mereka
menjejakkan kaki di Indonesia dengan membawa hasil jerih payah
berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, menjual jasa di negeri orang.
Segera Fungsikan Forum Komunikasi Tripartit TKI
Untuk
mengatasi berbagai persoalan yang selalu mendera para TKW, penegakan
hukum dan pengefektifan Forum Komunikasi Tripartit TKI yang dibentuk
pada awal Mei 2007.
Forum yang terdiri dari unsur perorangan atau
wakil pemerintah, pelaksana penempatan TKI (asosiasi dan perusahaan
pengerah tenaga kerja Indonesia swasta), lembaga swadaya masyarakat,
dan akademisi ini dibentuk memang di antaranya karena permasalahan TKI
yang sangat kompleks.
Dengan kehadiran forum itu, diharapkan
tidak ada lagi saling tuding bila suatu hari kelak musibah menimpa
kembali pada TKI. Sejatinya masalah tersebut dapat di atasi dan
tanggung jawab secara bersama-sama bukan saling menyalahkan satu sama
lain.
Berkenaan dengan persoaln yang tengah menerpa Ceriyati bisa menjadi ujian perdana bagi eksistensi forum tersebut.
Di
lain sisi, upaya pemerintah menyusun daftar hitam agen PJ TKI hendaknya
segera membuahkan hasil. Jika penyusunan daftar itu dijalankan tanpa
kompromi dan kongkalikong, maka perusahaan pengerah TKI swasta tidak
bisa 'bermain petak umpet dan lepas dari jeratan tanggung jawab
terhadap TKW yang dikirimkannya.
Tentu masih banyak upaya
pencegahan dan pemberian perlindungan sepenuhnya kepada TKW. Haruskah
keberpihakan pemerintah di bayar dengan pedihnya penyiksaan dan
melayangnya nyawa dari jasad TKW yang tak berdosa itu?
Thus,
kita harus berupaya mensejahterakan sekaligus memberikan perlindungan
yang nyaman terhadap para pahlawan devisa tersebut. Pasalnya, tanpa
ikhtiar dan kebaikan mereka dengan mengadu nasih dinegeri orang,
niscaya indonesia berkecukupan ditengah-tengah keterpurukan ekonomi dan
meroketnya sembako. [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 19/06/16.26 wib
* Ibn Ghifarie, Mahasiswa Studi Agama-Agama Fakultas Filsafat dan Teologi Universitas
Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung dan aktivis LPIK
(Lembaga Pengkajian Ilmu ke-Islaman) Bandung.
About the Author
Rating: Not yet rated

