Sisi Lain Kenaikan Susu
by: ibnu | Total views: 501 | Word Count: 1179 | View PDF | Print View
Lebih mengerikan lagi, setelah ikut dalam barisan susu yang dicari pun tak kunjung juga. Kalau pun ada harganya bisa selangit.
Ironis
memang. Betapa tidak. Negara yang punya segalanya, tetapi kekurangan
banyak hal. Kita punya laut amat luas, tapi isi laut yang melimpah
tidak membuat nelayan kita kaya. Pengais jala tetap saja dalam wajah
lamanya. Yaitu miskin dan tak berdaya.
Hamparan hutan luas tak
membuat binatang ternak beranak pinak. Malah mati kelaparan akibat
huntanya gundul. Tentunya, banjir tak terelakan lagi.
Belum
lagi, kita memang mempunya banyak kawah gunungg merapi, tetapi karena
ulah lalim manusia. Penyangga bumi itu beralih fungsi menjadi
malapetaka. Letusan lahar dingin daln lapa panas tak bisa dihindari
lagi.
Bumi pertiwi ini juga punya banyak kandungan minyak tanah.
Tetapi, benda ini juga bisa kapan saja menghilang dari pasar. Dan
kalaupun ada, harganya bisa selangit. Rakyat kecil sering nanar dan
kehabisan daya mencari energi ini.
Sebutan Negeri agraris pula
tak bisa menyediakan beras untuk rakyatnya. Hingga harus di impor beras
dari beberapa negara yang dulu belajar pertanian dari kita, seperti
Thailand dan Vietnam.
Padahal Nenek moyang kita mewariskan tradisi mulia tersebut. Lantas kenapa harus meminta belas kasihan dari bangsa lain?
Tak
hanya berhenti disini saja, bumi pertiwi ini juga punya banyak
kandungan minyak tanah. Tetapi, benda ini juga bisa kapan saja
menghilang dari pasar.
Kenaikan Susu Meresahkan Warga
Kenaikan
harga susu, khususnya susu bayi formula terjadi di beberapa pasar dan
toko swalayan di sejumlah daerah. Di Jakarta, sejumlah pedagang mengaku
tidak mengetahui pasti penyebab kenaikan harga susu. Namun,
diperkirakan kenaikan harga susu ini akan terus berlanjut secara
bertahap.
Hal senada diungkapkan Ketua Gabungan Asosiasi
Pengusaha Makanan dan Minuman Thomas Dharmawan. Thomas memperkirakan
kenaikan harga susu ini akan terus terjadi hingga 2008. Menurut Thomas,
kenaikan susu tersebut dipicu oleh menurunnya produksi susu di luar
negeri. Padahal, 70 persen kebutuhan susu dalam negeri berasal dari
impor.
Kenaikan harga susu juga terjadi di Surabaya, Jawa Timur.
Merambatnya harga susu membuat orangtua resah karena kenaikan tidak
hanya pada susu impor, tapi juga susu lokal. Susu impor bermerek yang
paling murah saat ini sekitar Rp 150 ribu per 900 gram dari sebelumnya
sekitar Rp 115 ribu.(www.metritvnews.com, 29/06)
Air Tajin Jadi Pilihan
Melonjaknya
harga susu membuat masyarakat berputar otak. Seperti yang dilakukan
oleh ibu-ibu di Panceng, Gresik, Jawa Timur, dengan mencampur susu
untuk anaknya dengan air beras yang baru saja dimasak atau air tajin.
Memberi minum balita dengan air tajin memang telah menjadi kebiasaan
warga setempat sejak lama.
Namun, kebiasaan lama itu baru
kembali dilakoni Mawartik sejak sepekan terakhir. Setiap kali usai
memasak nasi, warga Panceng ini selalu mengambil air tajin untuk
kemudian dicampur dengan susu anaknya. Komposisinya, seperempat botol
susu dicampur dengan tiga perempat air tajin. Langkah tersebut diakui
wanita ini sangat membantu menghemat pengeluaran keluarga, khususnya
untuk membeli susu sang anak.
Menyoal kenaikan susu itu, Menteri
Perdagangan Mari Elka Pangestu justru menyatakan kenaikan harga susu
yang terjadi saat ini masih tergolong normal.
Lain halnya dengan
Fahmi Idris, Menteri Perindustrian Fahmi Idris sebelumnya mengatakan
masalah itu bukan wewenangnya. Seharusnya pertanyaan mengenai kenaikan
harga susu serta kebijakan apa yang harus diambil lebih tepat ditujukan
ke Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan.
Menteri
Perdagangan Mari Elka Pangestu juga enggan memberikan penjelasan. Dia
ingin mengetahui secara pastu permasalahnnya. "Tentunya produsen dan
distributor yang mengetahui soal ini," kata Mari Elka. (www.liputan6.com)
Kendati
kenaikanya tak begitu tingggi hanya 10 persen. Tetap saja dapat
meresahkan wong cilik. Seperti yang diuratakan Ardiansyah Parman,
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri "Tidak ada alasan itu
(menaikkan harga hingga lebih 10 persen). Karena mereka harus
memperhitungkan daya beli masyarakat. Kalau terlalu tinggi dan tidak
terserap masyarakat produsen akan rugi," ujarnya.
Seperti
diberitakan, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia
memperkirakan harga susu bakal naik maksimal 15 persen hingga akhir
tahun ini. Hal ini terjadi jika pemerintah tidak mengantisipasi dampak
kekeringan di Australia, negara asal impor bahan baku susu Indonesia (Koran Tempo, 3/7).
Ketua
Umum Industri Pengolahan Susu (IPS) Abdullah Sabana juga memastikan
kenaikan harga susu dan produk turunannya tidak akan lebih dari 10
persen. "Sebab stok ada di pasar hingga tahun depan. Dengan efisiensi,
kami dapat meredam kenaikan harga bahan baku ini, sehingga kenaikan tak
lebih dari 10 persen," katanya.
Faktor utama lainnya, kata
Abdullah, adalah pergantian musim di Australia sehingga sangat kondusif
untuk menurunkan harga bahan baku susu. "Menjelang akhir tahun
kemungkinan besar harga bahan baku akan turun, di Australia mulai akan
turun hujan," ujarnya.
Kalaupun ada lonjakan harga bahan baku
yang sangat tinggi ke depan, dia memastikan, hal itu tidak langsung
berdampak pada kenaikan harga susu. Sebab, porsi harga bahan baku
terhadap biaya produksi bervariasi dan tidak besar dibandingkan faktor
lainnya. "Biaya yang timbul tidak hanya dari susu, tapi dari
pengemasan, energi, ongkos produksi di pabrik, upah karyawan, dan
sebagainya," kata Abdullah.
Deputi Menteri Koordinator
Perekonomian Bidang Kelautan dan Perikanan Bayu Krisnamurthi
mengatakan, pemerintah akan melakukan pemberian susu melalui program
pos pelayanan terpadu (posyandu). "Khususnya pemberian susu dan makanan
tambahan bagi bayi di bawah tiga tahun (6 bulan-3 tahun) kepada
masyarakat berpendapatan rendah," katanya. Pengeluaran masyarakat untuk
susu, kata dia, hanya 0,5 persen atau lebih rendah dari pengeluaran
untuk minyak goreng.
Di tempat terpisah Menteri Kesehatan Siti
Fadilah Supari mengatakan, pihaknya kemungkinan akan melakukan operasi
pasar susu. Saat ini, kata dia, jajarannya sedang mempertimbangkan
mekanisme yang akan dipilih.
Operasi pasar, kata Siti, merupakan
salah satu opsi yang kemungkinan akan dipilih untuk mengatasi tingginya
harga susu. Dia mengaku juga sedang mempertimbangkan membuat program
susu murah untuk rakyat. Fokusnya adalah pada anak balita. "Tapi masih
saya pikirkan," katanya (Tempo,04/07)
Sisi Lain Kenaikan Susu
Di
lain pihak, kenaikan harga susu dapat menggairahkan para peternak sapi
perah di sentra produksi susu murni di Indonesia karena mereka bisa
mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga jual komoditas andalannya
itu.
"Kenaikan harga susu murni memang sudah saatnya setelah
selama 12 tahun stagnan. Para peternak sapi perah saat ini bisa
menikmati kenaikan rata-rata Rp700 per liter susu. Yah sesekali mereka
merasakan keuntungan," kata Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia
(GKSI) Deddi Setiadi di Bandung, Selasa.
Ia menyebutkan harga
susu saat ini berkisar Rp3.500 hingga Rp3.900 per liternya. Padahal
harga biasanya berkisar Rp2.800 hingga Rp3.600 per liter susu di
tingkat koperasi.
Deddi menyebutkan, kenaikan yang terjadi saat
ini, bagi para petani sebenarnya belum mencapai angka "break event
point" (BEP) dari biaya per liter susu sapi bila dihitung dari biaya
pakan, obat-obatan dan upah kerja.
"Tidak fair jika pemerintah
minta menekan harga susu dari peternak tanpa ada upaya untuk
meningkatkan pendapatan mereka, sedangkan di lain pihak impor susu
terus dilakukan," katanya.
Ia menyebutkan, kenaikan harga susu
yang terjadi saat ini merupakan kesempatan `langka` bagi para peternak
sapi untuk mendapat keuntungan atau minimal menambah modal kerja bagi
mereka. (Antara, 03/07)
Sejatinya, kenaikan harga susu tak
selamanya dapat mengecewakan warga. Malahan bisa bermakna bahagia.
Betapa tidak, semula para peternak hanya bisa menjual susu perahnya
kepada para tengkulak dengan harga minim.
Kini, dengan
melejitnya harga susu dapat mengahairahkan para pengembala. Tentunya,
prodak dalam negeri menjadi tumpual masyarakat. Yang selama ini
tersisihkan. Hingga tak dikenal lagi. Akibat derasnya arus modernitas
dan gaya hidup gelamor.
Dengan demikian, sudah saatnya warga negara
beserta pemerintah mencintai hasil karya anak bangsa. Bukan malam
memperburuk kondisinya. Yakni dengan mengkonsumsi susu buatan luar
negeri. Semoga.[Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 05/07;23.23 wib
* Ibn Ghifarie, Mahasiswa Studi Agama-Agama Fakultas Filsafat dan Teologi Universitas
Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung dan aktivis LPIK
(Lembaga Pengkajian Ilmu ke-Islaman) Bandung.
About the Author
Rating: Not yet rated
Comments
komoditas susunya dari 5 tahun terakhir dari 2001 - 2006

