1 ½ Jam Bersama Bombay
by: ibnu | Total views: 238 | Word Count: 1415 | View PDF | Print View
Maklum
sudah hampir seminggu celana kesukanku itu tidak pernah ganti. Sementara baju yang
kukenakan tidak lain baju hitam dengan di depannya ada logo IAIN SGD Bandung
dengan tulisan Komite Pemilu Raya Mahasiswa (KPRM). Yang kebetulaan aku sendiri
terlibat secara langsung sebagai Koordinator Pubdokak dalam hajatan Mahhasiswa
tersebut.
Sementara kebiasanku, setiap
pergi kemana saja, selalu tidak luput menenteng kantong bivak ala
Boggie, yang di hiasi dengan segala asesoris. Pernak-pernik di tas itu
merupakan kenang-kenangan--buah tangan dari berbagai daerah yang aku kunjungi,
termasuk kampung halamanku sendiri. Entah itu, sekedar pergi ke kampus, kostan,
atau kesekretariat tas yang kucel itu selalu menghiasi pundaku. Hingga pada
akhirnya terbentuklah anggapan di temen-temen bahwa dimana ada kantong yang di
hiasi gantungan tas ala kadarnya. Maka dipastikan disitulah aku berada.
Begitupun,
ketika ada acara-acara, sebut saja kegiatan jurusan—dengan OSABA-nya; acara
UKM—melalui TGB-nya; hajatan penerimaan anggota baru di organisasi
primordial—dalam rangka Mapersaba; orientasi anggota baru di pergerakan ekstra
Kampus pun--OGAM. Tas punggung itu selalu menjadi teman akrabku, di sela-sela
kegiatan itu berlangsung. Tak hanya itu, sliping bag pun selalu
menjadi ‘istri’ kudua, yang menjadi teman ‘kencannku’ setelah setumpukan
buku-buku yang mesti di lahap dalam keseharianku.
Dengan demikian, hari ini
tepatnya pada tanggal 29 April, merupakan hari pertama di mulainya serangkaian
kegiatan Mapersaba daan Seminaar Kedaerahan. Yang di lakukan oleh Perhimpunaan
Mahasiswa Kota Intan Garut (Permata Intan). Setibanya di Kampus, tepatnya di
depan Wartel. Waktu itu menunjukan pukul 08.30 WIB. Aku duduk termenung di
samping ATM BNI, tanpa di temani seorang pun kecuali kantong boggie dan buku Islam
Atual karya Kang jalal—sapaan akrab Jalaluddin Rahmat semata.
Meskipun,
di sekitar wartel ini banyak orang-orang yang lalu lalang dan hilir mudik.
Bahkan terdapat sekelompok mahasiswa, yang mungkin dalam gunanmu inilah
orang-orang yang akan megikuti acara Mapesaba alias peserta? Akan tetapi,
ternyata mereka bukan para peserta? Padahal hari ini, dicanangkan sebagai hari
pemberangkatan kloter 1 kegiatan Mapersaba yang di adakan di Yayasan Pendidikan
Al-Masduki Garut. Ternyata lagi-lagi tidak mendapatkan sebatang hidung pun
peserta dan panitia.
Selang beberapa jam. Maka
bermunculah beberapa mahasiswa yang akan mengikuti acara Mapersaba. Yang
membuatuku terkentak dari lamumanan tadi.
Lantas,
seorang temanku—sebut saja fauzin berujar ‘ughie, mana peserta Mapersabanya?
Aku hanya bisa bengong sambil gelenggeleng kepala. Artinya gelengan kepala itu
pertanda jawaban atas ketidak tahuan adanya peserta.
Alih-alih
Fauzin itu memberitahukan kepadaku tentang keberangkatan ke lokasi kegiatan
yang akan memakai mobil Bombay. Kita tahu bahwa Bombay itu, salah satu mobil
milik IAIN SGD. Sebutan bombay pun, konon dinunjukan kepada mobil yang sudah
tua itu, tapi masih tetap bertahan dengan ketuanya. Walaupun ketinggagalan
zaman alias kuno. Karena ada kemiripan dengan mobil-mobil tua yang ada di india
atau lebih tepatnya di daerah Bombay. Kira-kira seperti itulah tanda-tanda
mobil yang biasa mangkal di Fak Ushuluddin itu, hingga akhirnya di kenaal
dengan sebutan mobil Bombay.
Maka
dengan serta merta yang ada dalam pikiranku ketika mendengan mobil bombay,
terdapat segudang pertanyaan yang menuntut sebuah jawaban. Salah satu
pertanyaan; mampukah mobil bombay itu sampai ketujuan?
Selang
setengah jam, maka munculah mobil berplat nomor B 7080 S yang ditunggu-tungu
itu? Lalu, tanpa di komandoi panitia dan peserta yang sudah terkumpul di warten
pun akhirnya memasuki mobil antik itu, yang di pangakalkan di samping
poliklinik.
Sekitar
pukul 09.50, setelah semua peserta dan panitia untuk keloter 1 di cek oleh
Rahmaat, selaku ketua OC. Lantas meluncurah mobil yang di kemudikan oleh siapa
lagi kalau bukan pak Ade. Karena tidak ada seorang pun yang bisa mengendarai
mobil antik nan unik ini selan ia sendiri.
Posisiku
aku duduk di belakang paling pojok, sambil menenteng handuk yang belum kering
kerena basah kuyuk akibat mandi terlalu pagi. Sambil menikmati pemandangan
bangunan yang menjulang tinggi bak tangga yang akan mengantarkan kita kepada
ruang angkasa, yang jauh di sana. Yang di lewati oleh mobil unik ini dengan
kekuatan standar (60 km/jam).
Namun,
aku masih tetap dihantui dengan segudang dan seabreg pertanyan-pertanyan tadi.
Sementara, itu di samping kananku terduduk seorang laki-laki kecil berbadan
kurus alias jangkis—yang akrab di panggil dengan sebutan Leway. Mengawali
pembicaraan denganku. Ia berkata ‘ughie, kenapa peserta yang mengikuti
Mapersaba ini sedikiit. Bukankah yang tadi duduk-duduk dan ngumpul di wartel
itu banyak bukan?”, ungkapnya.
Aku
tetap tidak bisa menjawab pertanyan kawanku kecuali geleng-geleng kepala dan
berdiri guna membuktikan pertanyaan temanku sambil berhitung di dalam hati.
Ya.....ternyata yang ikut gelombang 1 masih bisa di hitung dengan jari alias
hanya sedikit. Padahal yang mendaptarkan diri waktu masih membuka stand
pendaptaran di post depan itu tercatat sebanyak 60-an peserta Mapersaba.
Sementara masih di samping
kananku dekat kaca, terdapat kawanku—sebut saja Dika. Ia ketawa ketiwi
sendirian bak orang gila. Bahkan sesekali tertawa berbahak-bahak, entah
menertawakan siapa yang jelas ia kayanya sedang menikmati keindahan perjalanan
ini. Tanpa ada rasa beban apapun dari pancaran raut mukanya. Padahal jika mau
jujur ia sebagai pesrta, yang sebentar lagi akan medapatkaan seabreg
kesulitan dari panitia baik secara materi ataupun non materi, setibanya di
sana. Sebab ia sendiri peserta, bukan panitia. Apalagi senior. Gumanku.
Suasana di dalam mobil pun
menjadi riuh gaduh dan bising akibat suara kenalpot yang di keluarkan oleh
Bombay itu. Apalagi ketika, melewati jalan-jalan yang jelek bak sungai yang
kering kerontang tidak ada airnya, maklum lagi musim kemarau. Bahkan sesekali
terdengaar lontarn kata-kata yang di ungkapkan entah oleh siapa. Yang jelas
kata itu sering terdengaar di telingaku. Misalkan “awas-asaw ada halilintar; euy
aya hujaan poyaan nyiwit ceuli saeutik nya; ieu aya naon nya, sambil
loncat-loncatan di kursi jok; ataupun beberapa sikap dan prilaku teman-teman
yang mengganjal pikiranku mulai dari memegang-megang pintu, karena takut copot
sampai pada berdiri lantas memegang atap mobil, sebab takut tertimpa atap, yang
kelihatan sudah mulai kepopos”.
Lagi-lagi, gejala-gejala
aneh itu bermunculan, terutama Pada saat-saat melewati jalan-jalan yang berlika
liku bak hurup ‘S’ buatan anak kecil yang belajar menulis dan saat melalui
berbenjol-benjol batu yang hampir ada di setiap menapaki jalan ke tempat tujuan
bagaikan muka bulan yang mengadap ke bumi alias kerodok dan keriput.
Sedangkan di luar sana,
setiap Bombay ini melewati sekelompok orang-orang, entah lagi ngerumpi,
nongkrong-nongkrong atau sekedar orang yang lagi jalan saja. Tiba-tiba mereka
di buatnya murah senyum. Ketika mobil tua nan unik ini melintas di depan
mereka. Bahkan sesekali terlihat lontaran kata-kata mereka, yang
keluar dari mulutnya. Tapi aku sendiri tidak tahu persis apa yang di ungkapkan
oleh mereka mulai dari mencibir, mengejek, menghardi sampai pada mentertawakan,
sambil menunjuk bombay ini.
Aku ataupun
sahabat-sahabatku yang ada di dalam mobil, tidak menggubrisnya dengan dalih
“anjing menggonggong kapilah berlalu”. Begitulah pepatah kuno dari negri gurun
sahara, yang masih menempel dalam benak ingatanku.
Setibanya di tempaat tujuan,
sekitar pukul 11. 20 WIB. kami di ‘hidangi’ dengan sekelompok bocah-bocah kecil
yang sangat ramah dan familier. Seolah-olah kita saudara mereka, yang lama
tidak jumpa karena jarak yang jauh dan waktu yang memisahkan kita. Meskipun,
sesekali mereka menertawakan kami. Bahkan ada yang mencoba mendekati kami.
Hingga pada akhirnya mereka menaiki mobil tua yang unik lagi aneh itu tanpa ada
rasa takut sedikitpun yang menghantui mereka.
Selain itu, dengan kepolosan
dan keluguannya, mereka asyik bermain di Bombay itu. Berbeda dengna kami atau
aku sendiri yang mmasih di hantui rasa takut. Ya.. terbukti dari igauanku
pertama mendengar kata bombay. Yaitu mampukah mobil ini mengan tarkanku dan
teman-teman sampai ketujuan? Sebab baru pertama kali ini aku
menaiki mobil milik IAIN SGD Bandung ini.
Dengan demikian, hal inilah
yang menjadikan aku merasa percaya lagi kepada seseorang yang Maha Menguasai
Kerajaan Alam ini. Padahal, yang mengurus dan mengatur kita adalah Tuhan. Atau
dalam tradisi Sunda kita kenal pepatah jodo, pati, bagya jeung cilaka anging
Allah anu tos nangtoskeun. Sedangkan dalam pewayangan kita akrab dengan
wejangan ari hirup teh kudu siga wayaang, anu ngusik malikeun urang teh
nyaeta ku dalang.
Akir
kalam, Setelah 1 ½ jam bersama bombay dalam perjalanan Mapersaba menuju
Al-Masduki. Maka sampailah kita ketempat tujuan dengan selamat. Lantas, tanpa
menggedepankan kesombongan di depan Tuhan yang Maha Mengetahui dan Menguasai
Segala-galanya.
Tak
hanya itu, dengan tidak ada daya dan kekuatan yang kita miliki kecuali milik
Tuhan.
Oleh
karena itu, kita sejogyanya selaku orang yang hanya bisa berencana dan Tuhan
pulalah yang akan menentukanya. Maka kita di anjurkan untuk memohon doa kepada
sang Pencipta atas keselamataan kita sampai ketempat yang dituju. Semoga [Ibn Ghifarie]
Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 290405
*Ibn Ghifarie, Mahasiswa Studi Agama-Agama Fakultas Filsafat dan Teologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung dan aktivis Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (LPIK) Bandung
About the Author
Rating: 5.00

